
Akademisi senior Dr. H. Rd. Heri Solehudin A., MM., secara resmi memaparkan panca olah membangun daerah Ciamis pada Sabtu (13/6/2026). Ia menyampaikan gagasan strategis ini dalam sebuah forum pertemuan di Hotel Horison Palma Pangandaran.
Langkah berani tersebut menjadi respons nyata terhadap produktivitas pertanian yang belum optimal. Selain itu, keterbatasan digitalisasi UMKM lokal juga menjadi alasan utama.
Melalui cetak biru tersebut, tokoh tatar Galuh ini menawarkan peta jalan terukur. Tujuannya adalah mewujudkan Ciamis Maju dan Modern guna menyongsong era Ciamis Emas 2045.
Kabupaten Ciamis saat ini memerlukan pola tata kelola pembangunan yang kreatif. Pemerintah daerah juga harus melahirkan inovasi yang terintegrasi agar wilayah ini berkembang pesat.
Oleh karena itu, gagasan panca olah membangun daerah Ciamis ini langsung memantik perhatian luas. Berbagai elemen masyarakat, birokrat, hingga pelaku usaha makro menyambut hangat ide tersebut.
Wakil Ketua Forum Doktor Sospol UI ini juga menegaskan hal penting. Menurutnya, pemangku kebijakan tidak boleh lagi membangun daerah secara parsial.
Beliau menilai Ciamis memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Selain itu, wilayah ini memiliki akar sejarah Kebudayaan Galuh yang sangat besar.
Namun, investor belum melirik potensi investasi daerah ini secara maksimal selama beberapa tahun terakhir.
Urgensi Penerapan Panca Olah Membangun Daerah Ciamis
Guna mengatasi persoalan laten tersebut, program panca olah membangun daerah Ciamis hadir sebagai solusi.
Program ini menyatukan lima pilar pembangunan utama yang saling mengunci. Pilar-pilar tersebut meliputi aspek spiritual (Olah Batin) dan pendidikan (Olah Nalar).
Selain itu, ada pula aspek ekonomi (Olah Materi), kesehatan (Olah Raga), serta kesejahteraan sosial (Olah Rasa).
Integrasi kelima elemen ini akan menjadi motor penggerak utama. Konsep tersebut bakal memodernisasi tata kelola pemerintahan publik secara cepat.
“Panca Olah bukan sekadar visi politik pragmatis menjelang pilkada. Ini adalah gerakan pembangunan berbasis nilai, ilmu pengetahuan, dan ekonomi kerakyatan,” ujar Dr. Heri Solehudin.
Ia menyampaikan hal itu dengan penuh optimisme saat media mewawancarainya. “Kita ingin membawa Ciamis ‘naik kelas’ menjadi pusat pertumbuhan baru di wilayah Priangan Timur,” tambahnya.
Tiga Fase Strategis Menuju Ciamis Modern
Oleh sebab itu, perancang program membagi implementasi rencana panca olah membangun daerah Ciamis ke dalam tiga fase.
Dr. Heri menargetkan rentang tahun 2026–2028 sebagai fase awal. Pada tahap ini, pemerintah fokus meletakkan Fondasi Panca Olah secara menyeluruh di tingkat birokrasi dan desa.
Selanjutnya, pemerintah akan menggenjot fase Akselerasi SDM & Ekonomi secara masif pada tahun 2029–2031.
Kemudian, pada tahap akhir, realisasi panca olah membangun daerah Ciamis diproyeksikan tumbuh pesat.
Wilayah ini akan menjadi Pusat Pertumbuhan Utama di Priangan Timur pada rentang tahun 2032–2035. Melalui periodisasi ini, masyarakat luas dapat mengevaluasi setiap target pembangunan secara berkala.
Lima Program Prioritas Panca Olah
Secara lebih rinci, terdapat lima program prioritas dalam ekosistem Ciamis Maju dan Modern. Seluruh program tersebut menginduk pada panca olah membangun daerah Ciamis ini.
Pilar pertama adalah Olah Batin yang berfokus pada Ciamis Religius & Berakhlak. Program ini menawarkan insentif 100% bagi guru ngaji atau DKM.
Selain itu, ada pula rencana revitalisasi pesantren serta beasiswa penuh bagi kader ulama muda.
Sementara itu, pilar kedua adalah Olah Nalar yang menyasar sektor Pendidikan Masa Depan. Program ini mencakup digitalisasi sekolah berbasis AI (Artificial Intelligence).
Di samping itu, sekolah akan mendapatkan fasilitas Smart Classroom dan pusat inovasi entrepreneurship. Sektor pendidikan juga menerapkan program Link and Match dengan dunia kerja global.
Selanjutnya, pilar ketiga yang tidak kalah krusial adalah Olah Materi. Pilar ini bertujuan membangun Ekonomi Rakyat Berdaya Saing.
Pihak promotor akan mengakomodasi sektor ini melalui pengembangan 5 sentra pertumbuhan baru.
Caranya melalui skema hilirisasi pertanian dan implementasi pertanian pintar (smart farming). Tim ahli juga menyiapkan pasar digital serta optimalisasi Galuh Tourism Hub.
Sektor Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
Di sisi lain, pilar keempat adalah Olah Raga. Pilar ini bertugas memastikan Masyarakat Sehat & Produktif. Langkah nyatanya mencakup modernisasi menyeluruh pada fasilitas Puskesmas.
Tenaga medis juga akan mendirikan Klinik Desa Digital di berbagai wilayah. Sektor ini fokus menuntaskan angka stunting dan mencapai jaminan kesehatan universal.
Terakhir, pilar kelima adalah Olah Rasa untuk Kesejahteraan & Keadilan Sosial. Pemerintah desa akan mewujudkan hal itu lewat Program Satu Desa Satu Produk Unggulan.
Selain itu, panca olah membangun daerah Ciamis juga mengonsepkan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Bentuknya berupa stimulus rumah layak huni bagi warga miskin. Penggagas ide juga menguatkan peran BAZNAS untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Sebagai informasi tambahan, pemikiran komprehensif dari Bendahara Perkumpulan Peneliti Indonesia ini sepenuhnya berbasis kajian ilmiah.
Kebijakan ini mengadopsi teori tata kelola publik modern (sound public governance). Sistem tersebut sudah lazim berlaku di negara-negara maju.
Oleh karena itu, gagasan panca olah membangun daerah Ciamis ini bukan sekadar janji manis di atas kertas. Ini merupakan sebuah proposal ilmiah yang sangat logis bagi jajaran birokrasi kelak.
Melalui pendekatan terstruktur ini, Dr. Heri mengaku sangat optimistis. Beliau yakin indikator keberhasilan pembangunan daerah dapat segera terlihat nyata.
Hasil tersebut berupa lahirnya SDM yang unggul dan tata kelola pemerintahan yang bersih. Selain itu, investasi yang berkualitas akan segera masuk ke Kabupaten Ciamis dalam waktu dekat.
Pada akhirnya, masyarakat kini menanti realisasi panca olah membangun daerah Ciamis tersebut. Apakah gagasan ini mampu membawa daerah keluar dari jebakan produktivitas rendah?
Kita akan melihat transformasi total wilayah ini dalam satu dekade ke depan. Keberhasilan blueprint ini tentunya membutuhkan komitmen kolektif dari seluruh pemangku kepentingan.





